Online Baccarat Platform_Blackjack calculator_Baccarat Probability Table

  • 时间:
  • 浏览:0

HTexTexas Hold'eTexas Hold'em Onlinem Onlineas Hold'em Onlinearus disombongkan, saya mampu mengendalikan emosi. Dan juga keinginan. Sebuah laman internet tentang Hallyu Wave (mereka sebutnya untuk demam Korea ini), bahwa drama korea itu bikin kecanduan. Namun tak berlaku. Saya hebat mengendalikan diri. Tak lebih dari lima drama korea sampai hayat saya dewasa ini yang telah ditonton. Tak lebih. Saya yakin. Mungkin juga karena saya idealis dan pengabdi budaya hemat. Saat itu hardisk sempitnya bukan main. Menambah barang, bukanlah solusi. Jika kamu juga belum mampu menambah memori. Sehingga, drama korea bukan menjadi prioritas hiburan. Selain saya yakin bahwa jalan cerita dari drama korea tak begitu mengerti hidup. Menyangkut kasih dan asmara sangatlah tidak bersahabat. Begitu ilusi, khususnya untuk mewakilkan cerita hidup saya. Fana. Alhasil, saya bukanlah penggemar drama korea. Terakhir menonton serial Netflix, Kingdom. Itupun karena anti-mainstream ceritanya.

Jauh sebelum itu, tak genap satu dekade ke belakang dari tahun 2009. Ada satu drama korea yang legendaris. Saya masih kecil. TK menjelang SD. Saya ingat betul bagaimana santap malam sambil menontonnya. Song Hye Kyo kalau tidak salah pemerannya kala itu. Inti cerita yang paling saya ingat dalam edisi otak anak kecil adalah: anak yang tertukar. Yang kemudian juga ada sinetron khas Indonesia kemudian waktu. Saat itu, musik pop Korea masihlah belum menggaung nadanya. Dimana persaingan serial televisi Indonesia saat itu dikuasai produsen Asia Timur. Belum ada tempat khusus bagi musik. Maka bersainglah Taiwan dengan Meteor Gardennya. Yang mana, saya kira juga dari Korsel.

Ditulis sambil diiringi lagu IU – Good day.

Terjangan Korsel lewat Kpopnya sukses besar. Dalam satu dekade terakhir, musisi Korsel begitu dikenal dunia. Lewat grup musiknya, dari girlband hingga boyband. Ataupun penyanyi solonya. Mendengar musik Kpop di beragam tempat serasa biasa. Di kafe, mall maupun ponsel remaja yang tiba-tiba nyaring. Tangga musik dunia bergantian ditempati oleh girlband dan boyband. Girlband dan boyband juga secara rutin berganti popularitasnya. Ada yang naik, kemudian menggantikan. Industri musik Korsel paham betul konsep kesinambungan. Sudahlah tuntas bagaimana agensi disana memproyeksikannya. Satu senior menjadi bintang, junior mulai menimba pengalaman. Dunia tak perlu khawatir kehabisan produk Kpop dan bintangnya. Karena Korsel tahu resepnya.

Entahlah. Namun saya selalu mempunyai insting tajam. Salah satunya ialah mayoritas orang suka Kpop, juga akan suka drama koreanya. Salah satu sampel objeknya saya sendiri. Dan teman saya satunya. Saya kenal Kpop lewat Gee dari Girls Generation. Kemudian berakhir bertingkah laku bagai litbang acara gossip artis. Mencari tahu fakta dan keunikan anggotanya. Berujung pada drama yang dimainkannya. Langganannya hanya satu. Bila ada anggota Girls Generation main peran, disitu saya tonton. Hingga akhirnya tahu menahu aktor dan aktris lainnya. “oh ini kok cantik”, kemudian cari drama lainnya. Satu episode penasaran berakhir seisi season dikhatamkan. Kompas petunjuknya saat itu bukan lagi Kpop. Pokoknya yang asyik dramanya.

Saya mengawali perkenalan dengan “cita rasa” korea lewat musik dan laguna. Dalam televisi tabung yang masih digunakan keluarga. Di tahun 2009 entah apa kanalnya. Jejeran gadis membentuk pose patung tiba-tiba tayang. Sembari diiringi musik. Kemudian bernyanyi. Sambil juga berjoget (sebuat saja dance biar lebih keren). Sepanjang lagu melewati telinga, saya hanya ingat satu kata. Gee. Itu saja. Ternyata setelah ditelusuri lebih lanjut. Lagu itu sudah hits. Meledak bahkan, terpopuler di masanya. Mengguncang belantika musik Asia. Dalam fenomena tersebut, tak sadar saya mulai mengenal Korsel. Dalam beragam produk hiburannya.

Sebelum tahun 2010an, rasanya demam Korea tak sepanas sekarang. Korea disini bukanlah daratan sebelah Utara. Dengan tokohnya yang imut, chubby dan tak terduga. Melainkan yang semenanjung dekat seberang Jepang. Dulu terkenal karena mengalahkan Italia di Piala Dunia 2002. Korea Selatan namanya. Korea Selatan menjadi salah satu kekuatan dunia modern. Tak hanya lewat keberhasilan sebagai negara maju. Juga sebagai pengembang budaya pop tak terbantahkan.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Sajian drama memang tak mempan. Namun musik masihlah menghantam. Kpop, harus diakui dapat disetarakan dengan musik barat sekarang. Bahkan bersaing ketat. Beberapa lagu masih masuk ke telinga saya. Dan beberapa diantaranya menjadi playlist. Satu keunggulan musik yang tak bisa dipungkiri. Kpop dengan bahasa hangeulnya hadir orisinil. Selain memang musik sifatnya universal di dunia. Bahasa yang dapat dirasakan. Walau tak mengerti kosakatanya. Melodi dan nadanya bersurat. Hentakan musiknya jembatan silaturahmi. Tak perlu diteliti arti, pendengar paham makna dan isi. Yang berakhir dalam beragam jalan tembusan. Menembus masuk serial drama. Menembus masuk belajar bahasa Korea. Atau seperti saya. Penikmat musiknya saja.

Terakhir saya menonton drama korea judulnya 49 Days dua tahun lalu. Selain memang karena saat itu galau-galaunya. Juga saya memang pernah sekilas menontonnya. Di sebuah kanal televisi yang biasanya promosi barang kebutuhan rumah tangga. Harus diakui, satu episode tak akan pernah cukup. Jiwa ini menolak untuk berhenti saat tanggung. Memaksa untuk menontonnya lagi hingga selesai. Drama korea, sepertinya itulah kehebatannya. Padahal saya yakin isinya tak hanya drama. Namun entah kenapa, semuanya harus dimulai dengan kata “drama”. Kita harus pikirkan ulang jati dirinya lagi.